184.800 Pengangguran Terserap Padat Karya Produktif

30 06 2009
Rabu, 10 Juni 2009 | 13:26 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Program padat karya produktif yang akan dilaksanakan di 21 kelurahan di wilayah Kota Yogyakarta ditargetkan menyerap 184.800 orang pengangguran dan semipengangguran di kota ini.

“Program padat karya produktif ini terutama difokuskan pada pengembangan usaha ekonomi produktif,” kata Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta MK Pontjosiwi W, Rabu.

Pada peluncuran program padat karya produktif di Kelurahan Mantrijeron, Kecamatan Mantrijeron, ia menyebutkan, dari pengangguran dan semipengangguran sebanyak itu, 210 di antaranya akan dilatih berwirausaha untuk mengelola usaha ekonomi produktif yang telah disetujui.

Program padat karya produktif ini akan dilaksanakan dalam tiga tahap, dan setiap tahap berlangsung selama 40 hari, dengan waktu lima jam per hari. Tahap pertama akan dilaksanakan di tujuh kelurahan yaitu Tahunan, Mantrijeron, Prenggan, Suryatmajan, Notoprajan, Gedongkiwo, dan Brontokusuman pada 10 Juni hingga 28 Juli.

Kemudian tahap kedua pada 27 Juli sampai 11 September, dan tahap ketiga pada 14 September hingga 5 November. Menurut dia, usaha ekonomi produktif berkelanjutan yang akan dilaksanakan di Kelurahan Mantrijeron meliputi pembuatan sarana pertanian dan pengelolaan sampah biopori.

Sedangkan usaha ekonomi produktif lainnya yang akan dilaksanakan umumnya adalah budi daya ikan lele, usaha warung makan, kuliner, ternak ayam, kerajinan batik serta konveksi, disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.

Ia menyebutkan dana yang dialokasikan untuk menunjang program tersebut sebesar Rp 3,4 miliar, antara lain untuk pengadaan fisik Rp 15 juta per paket, pengadaan peralatan Rp 4 juta per paket, sarana usaha Rp 16,5 juta per paket, dan honor tenaga kerja serta kepala kelompok kerja dengan total dana sebesar Rp 2,35 miliar.

Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto mengatakan, pemerintah menghadapi tantangan dalam mengupayakan pertumbuhan dan kemajuan ekonomi agar masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. “Dengan padat karya produktif ini, masyarakat diajak agar berdaya, karena tidak hanya diberi ikan, tetapi juga diberi kail untuk mengangkat derajatnya. Program ini adalah setengah ikan dan setengah kail,” katanya.

Menurut Wali Kota, kodrat manusia adalah bekerja sehingga program padat karya produktif ini membuat manusia tidak hanya diberi belas kasihan, tetapi mampu membuat mereka menjadi bangga. Pada peluncuran program padat karya produktif itu, Wali Kota secara simbolis menyerahkan bantuan berupa cangkul dan satu kotak obat kepada tujuh lurah yang daerahnya akan melaksanakan program padat karya produktif.

(sumber : www.kompas.com)





what time is it?

23 06 2009

Vodpod videos no longer available.

more about "what time is it?", posted with vodpod





Kisah Grameen Bank dan Muhammad Yunus sebagai Founder-nya

21 06 2009

Bangladesh sebagai sebuah Negara kecil dan Miskin dan munculnya Grameen Bank

Bangladesh adalah salah satu negara di kawasan Asia Selatan yang tergolong negara miskin. Negara ini meperoleh kemerdekaannya pada tahun 1971. Awalnya Bangladesh merupakan bagian dari negara Pakistan sebelah timur, namun pemerintahan di sektor barat bersikap tidak peduli terhadap sektor timur sehingga menyebabkan Bangladesh melakukan pemisahan diri melalui peperangan yang didukung oleh India.

Pada awal berdirinya negara Bangladesh, perekonomian tidak memiliki fundamental yang kuat, sedangkan sistem pemerintahannya pun masih berantakan. Di masa-masa tersulit sekitar tahun 1970-an, seorang profesor dari Fakultas Ekonomi Universitas Chittagong bernama Muhammad Yunus muncul dengan membawa konsep perekonomian mikro yang nantinya sangat berpengaruh pada kehidupan rakyat miskin. Konsep ini disebut oleh Muhammad Yunus sebagai Bank Grameen atau bank untuk kaum miskin. Awal mulanya pendirian bank ini hanya sebuah unit usaha kredit yang khusus ditujukan kepada kaum miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, unit usaha kredit ini berkembang pesat menjadi sebuah Bank Grameen yang nyatanya dapat meminimalisir bahkan menghapus kemiskinan di Bangladesh. Dewasa ini, Bank Grameen tidak hanya beroperasi di Bangladesh saja namun juga telah berkembang sangat pesat dan diadopsi oleh lebih dari 100 negara di dunia.     Bank Grameen tidak melihat perbedaan ideologi, ekonomi, hukum, bahkan politik. Bank Grameen hanya berfokus pada satu hal, yakni kemiskinan. Sebab, kemiskinan merupakan indikasi dari buruknya perekonomian dan kesejahteraan  negara.

Sejarah Berdirinya Bank Grameen

Tahun 1974 merupakan tahun yang harus dihadapi dengan berat oleh Bangladesh, sebab pada tahun ini Bangladesh masuk kedalam cengkraman kelaparan. Hal ini tentunya sangat memprihatinkan, sebab sebuah negara kecil yang baru meraih kemerdekaannya disertai perekonomian dan perpolitikan yang belum stabil harus mengadapi kelaparan yang mengakibatkan banyak sekali warganya yang meninggal.

Muhammad Yunus, Seorang dosen Universitas Chittagong serta Dekan Fakultas Ekonomi ini sangat risau melihat keadaan tersebut. Saat bencana kelaparan di tahun 1974 sedang melanda Bangladesh, Yunus berpandangan bahwa selama ini segala macam teori ekonomi klasik maupun modern yang secara elegan di ajarkan di kampus tidak bisa menjawab permasalahan sosial di negaranya, tidak hanya kelaparan namun juga kemiskinan dan permasalahan sosial ekonomi lainnya.

Melihat keadaan yang semakin parah, Yunus memutuskan untuk terjun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil masyarakat yang mengalami kelaparan dan kemiskinan. Desa jobra adalah obyek yang menjadi pusat observasi, sebab daerah tersebut dekat dengan kampus. Proyek awal yang dilakukan Yunus adalah mencari tahu berapa banyak keluarga di desa jobra yang memiliki lahan garapan dan tanaman yang bisa di garap, keterampilan yang dimiliki penduduk desa, hambatan yang dihadapi dalam peningkatkan kesejahteraan mereka, dan berapa banyak warga yang miskin. Setelah melakukan analisis sebab-akibat, Yunus kemudian melakukan studi tentang ekonomi pertanian yang kemudian dilanjutkan dengan pengembangan desa melalui sektor pertanian.

Pengembangan desa yang dilakukan oleh Profesor Muhammad Yunus tidak berhenti pada sektor pertanian saja. Setelah menuai hasil yang positif, pada tahun 1976 Yunus mulai mengunjungi rumah tangga yang paling miskin di Jobra. Kunjungan tersebut melahirkan suatu insiprasi baru ketika Yunus menemui salah satu perajin bangku di Desa Jobra. Hasil perbincangan Yunus kepada perajin tersebut membuahkan kesimpulan bahwa rata-rata warga miskin yang memiliki profesi sebagai pengusaha kecil sangat sulit memperoleh kredit dan bahkan terpaksa meminjam uang kepada rentenir yang tentunya akan memberikan bunga pinjaman yang tinggi sehingga sangat memberatkan  si debitur, apalagi debitur merupakan warga miskin.

Dari tahun ke tahun, pengembangan desa terus menerus dilakukan. Yunus kemudian membuat suatu proyek percontohan awal yang disebut sebagai Bank Grameen. Proyek ini dibentuk dengan alasan bahwa bank konvensional dan koperasi kredit biasanya meminta pembayaran sekaligus. Hal ini tentunya secara psikologis dirasa sulit oleh peminjam, apalagi yang predikatnya tergolong kaum miskin. Sistem yang dikembangkan oleh Bank Grameen justru berlawanan dengan bank konvensional. Para nasabah yang menjadi anggota dapat mencicil pembayaran dengan nilai nomonal uang yang sedemikian kecil sehingga tidak memberatkan si peminjam. Selain itu, nasabah didorong untuk membiasakan diri dalam menabung. Sebab, tabungan terkumpul bisa mereka jadikan pegangan di waktu susah atau digunakan untuk menambah peluang-peluang peningkatan pendapatan. Pada saat itu, Bank Grameen menetapkan 5 persen dari setiap pinjaman menjadi tabungan. Pinjaman dilakukan tidak melalui perseorangan melainkan kelompok.

Setelah mengalami kemajuan yang sangat pesat, Bank Grameen mulai membuka cabang di setiap pedasaan di Bangladesh. Kinerja bank juga semakin ditingkatkan. Bank Grameen tidak hanya sekedar emberikan pinjaman yang mudah dijangkau warga miskin, namun juga memberikan pelatihan kepada para peminjam dalam memajukan usahanya.

Periode 90-an, Bank Grameen sudah memperlihatkan bagaimana sistem itu efektif bekerja. Para peminjam yang dulunya tergolong miskin, sekarang tidak lagi sekedar melewati garis kemiskinan, namun juga sudah meninggalkannya jauh di belakang. Salah seorang peminjam  yang pernah bertenmu langsung dengan Profesor Yunus mengungkapkan bahwa cicilan per minggunya lebih dari 500 taka (US$ 12). 500 taka yang dipinjamnya itu adalah nilai pinjaman pertamanya saat sepuluh tahun yang lalu. Ini berarti bahwa kapasitas mereka untuk meminjam, berinvestasi dan membayar kembali melipat hingga 50 kali dalam 10 tahun. Bank Grameen juga mendirikan sebuah museum yang disebut sebagai Museum Kemiskinan sebagai simbol bahwa kinerja bank selama ini sangat efektif memberantas kemiskinan.

Bank Grameen saat ini telah diadopsi oleh lebih dari 100 negara di dunia. Sebagai bentuk penghargaan karena telah berhasil menuntaskan kemiskinan, founding father-nya yakni Profesor Muhammad Yunus memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian tahun 2006.

Peranan Bank Grameen dalam Memberantas kemiskinan di Bangladesh

Bank Grameen memiliki peranan besar bagi rakyat kecil. Sistem perbankan yang digunakannya nyaris bertolakbelakang dengan yang digunakan oleh bank konvensional. Kenyataannya sampai hari ini bahwa bank konvensional semakin tidak pro pada rakyat. Banyak sekali bank konvensional yang hanya mau mendanai proyek-proyek yang menghasilkan profit besar. Bahkan, mereka juga mempersulit kaum miskin dengan suku bunga pinjaman yang tidak terjangkau dan agunan. Padahal kaum miskin tidak memiliki uang cukup untuk mengembalikan bunga dan mereka juga tidak memiliki agunan. Begitu juga dengan kaum rentenir. Secara prosedural, kaum miskin relatif lebih mudah meminjam uang kepada mereka, tapi bunga pinjamannya sangat tinggi bahkan lebih tinggi dibanding bunga bank konvensional. Baik bank konvensional maupun rentenir saat ini merupakan representasi dari kapitalisme modern dan juga feodalisme, dimana yang miskin semakin miskin, sedangkan yang kaya semakin kaya.

Kemiskinan di Bangladesh merupakan persoalan utama. Namun, hadirnya Bank Grameen yang didirikan oleh Muhammad Yunus memberikan suatu peranan besar dalam menjawab solusi kemiskinan yang telah mengakar di Bangladesh selama bertahun-tahun. Bank Grameen tidak hanya memberikan solusi dalam segi finansial kaum miskin, namun juga merubah kebudayaan kolot warga setempat, dimana wanita hanya boleh di dalam rumah dan tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas ekonomi di luar rumah. Dengan hadirnya Bank Grameen, meski wanita tidak diperkenankan melakukan aktivitas ekonomi di luar rumah, namun dengan berbagai solusi, wanita dapat bekerja meski di dalam rumah. Bank Grameen juga merupakan suatu wujud implementasi dari konsistensinya. Sebagai bank kaum miskin, Bank Grameen tidak muncul dalam wujud lembaga keuangan eksklusif sebagaimana bank konvensional lainnya, melainkan menjelma sebagai lembaga yang berada di lingkungan miskin secara riil. Salah satu contoh konkret yang terjadi di Bangladesh adalah code of conduct dalam sistem di Bank Grameen tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manajer ketika membuka cabang di suatu daerah.

Sebagai contoh, seorang manajer datang ke suatu tempat yang telah disepakati untuk didirikan cabang tanpa perkenalan formal. Mereka tidak punya kantor, tidak punya tempat tinggal, dan tak ada seorang pun yang mereka kenal. Tugas pertamanya adalah mendokumentasikan segala sesuatu mengenai wilayah itu. Mereka memang tidak boleh datang ke desa dengan gaya pejabat dengan kemegahan dan mengharapkan hidangan lezat dan kenyamanan. Manajer dan asistennya tersebut harus membayar sendiri penginapannya dan tidak diizinkan untuk menginap di lingkungan mewah. Mereka hanya boleh menginap di rumah terlantar, asrama sekolah, atau kantor dewan setempat. Mereka harus menolak tawaran makan dari warga desa yang berada dengan menjelaskan bahwa itu bertentangan dengan aturan Grameen. Hal ini mengindikasikan bahwa suatu lembaga yang punya orientasi pada kaum miskin memang harus hidup dengan cara yang serba miskin.

Oleh sebab itu, Bank Grameen dinyatakan berhasil menuntaskan kemiskinan, sebab Bank Grameen dalam menjalankan misinya tidak hanya berfokus dalam melakukan kredit seperti yang dilakukan oleh bank konvensional pada umumnya, tetapi lebih daripada itu, Bank Grameen  “menjelma”  menjadi kaum miskin itu sendiri, karena dengan cara itulah Bank Grameen dapat mengetahui secara utuh tentang segala aspek penyebab kemiskinan dan solusi yang tepat  dalam melakukan cut terhadap penyebab kemiskinan di Bangladesh.





Download E-Book “Alan Greenspan Sosok Dibalik Gejolak Ekonomi Dunia” Gratis!!

16 06 2009

Alan Greenspan dikenal sebagai Gubernur Federal Reserve yang cukup mempunyai pengaruh di balik pergolakan ekonomi dunia. ingin tau bagaimana kisah ceritanya? klik disini untuk download

http://www.ziddu.com/downloadlink/4485597/PG78_Ebook_Alan_Greenspan.rar





Bank Bisa Memicu Krisi Baru pada 2010

13 06 2009
EROPA
Jumat, 12 Juni 2009 | 06:04 WIB
LONDON, KOMPAS.com – Bank Sentral Eropa atau ECB mengawasi 25 bank yang dianggap vital untuk sektor keuangan. Pemantauan dilakukan karena ada kekhawatiran bahwa krisis bisa terjadi lagi tahun 2010. Demikian diberitakan harian Inggris, The Daily Telegraph, Kamis (11/6).

Dejan Krusec, ahli stabilitas finansial ECB, mengatakan, perbankan cukup kuat untuk menahan resesi berbentuk V atau penurunan tajam dengan pemulihan segera. Akan tetapi, perbankan tidak dapat bertahan jika penurunan aktivitas ekonomi berlangsung terlalu lama.

”Jika resesi ini berbentuk U (penurunan aktivitas ekonomi dengan pemulihan yang lamban), bank tak terlalu banyak menghadapi masalah. Bank-bank yang kami awasi itu sangat penting dan strategis. Kita tidak khawatirkan keadaan 2009 karena perbankan di Eropa memiliki modal cukup. Masalahnya adalah potensi pada 2010 nanti,” paparnya.

Bank of America dipaksa

Di Washington, para anggota DPR mendesak Bank Sentral AS menyerahkan catatan dan dokumen lain terkait peran bank sentral yang memaksa Bank of America (BoA) mengakuisisi Merrill Lynch.

Desakan terjadi setelah muncul anggapan bahwa CEO BoA Ken Lewis dipaksa mengakuisisi Merrill Lynch. Lewis bersaksi bahwa dia dimintai oleh mantan Menteri Keuangan Henry Paulson dan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke untuk tidak mengungkapkan rincian mengenai posisi keuangan Merrill Lynch.

Informasi ini dicuatkan Jaksa New York Andrew Cuomo. Bank Sentral AS dan Paulson membantah. ”Kami berharap dapat menanggapinya cepat seperti diharapkan,” ujar juru bicara Bank Sentral AS.

Panggilan oleh Badan Pengawas DPR dan Komite Reformasi Pemerintah itu dilakukan setelah Lewis berencana memberi kesaksian, Kamis kemarin.

Lewis menyatakan BoA telah mempertimbangkan penghentian akuisisi Merrill Lynch karena melihat semakin menumpuknya kerugian Merrill.

”Hal ini tentu membuat resah para pemegang saham BoA dan juga stabilitas pasar,” ujar Lewis.

Hanya beberapa pekan sebelum transaksi akuisisi tersebut dirampungkan, laporan keuangan kuartal keempat BoA memperlihatkan posisi BoA sangat terpengaruh oleh transaksi pembelian Merrill tersebut. (AP/AFP/JOE)

( Dikutip dari : http://bisniskeuangan.kompas.com–Kompas Cetak)





Perbankan Syariah Bisa Tumbuh 30 Persen

13 06 2009
Jumat, 12 Juni 2009 pukul 01:41:00

JAKARTA–Institusi keuangan syariah dianggap paling mampu bertahan dalam situasi krisis dengan pertumbuhan bisa mencapai 30 persen, atau lebih besar dari perbankan konvensional. Prediksi optimistis itu dikemukakan Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBSINDO), Riawan Amin.

Satu hal yang wajib ada dalam mengejar hal itu, menurut Riawan, adalah minat seluruh pihak yang berkepentingan dalam perbankan syariah untuk bersama-sama meyakini bahwa ekonomi syariah bukan sekadar pasar. “Ini juga merupakan misi seluruh bangsa di dunia,” kata Riawan.

Riawan yakin, pertumbuhan itu akan didukung keluarnya undang-undang terkait dan pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyatakan bahwa perbankan syariah merupakan agenda nasional. “Bank merupakan lembaga yang bergerak di bidang bisnis dan mencari keuntungan. Namun demikian diharapkan ada peran regulator guna menjembatani pembentukan jaringan pasar perbankan syariah,” kata Riawan.

Ia juga mengemukakan, pemerintah sudah mengupayakan pengembangan perbankan syariah namun departemen lain perlu juga diajak lebih bersinergi menjalin kerja sama. Saat ini sudah 3,5 juta orang tercatat sebagai nasabah perbankan syariah. Sebesar 70 persen diantaranya berada pada bank Muamalat dengan menggunakan sistem shar-e.

(Dikutip dari : http://www.republika.co.id)





Target Pertumbuhan Dua Digit Dianggap Mustahil

13 06 2009
Sabtu, 13 Juni 2009 pukul 01:08:00

JAKARTA-Tim ekonomi Greenomics Indonesia menilai target pertumbuhan ekonomi dua digit yang dipatok pemerintah mustahil bisa dicapai. Kelompok itu beralasan bahwa tiga prasyarat yang diperlukan untuk mencapainya target tersebut pun sukar terpenuhi.

Dua di antara tiga syarat itu adalah, tidak mungkin  60 persen lapangan usaha dalam produk domestik bruto bisa tumbuh di atas 10 persen. Selain itu sukar untuk mewujudkan 30 persen lapangan usaha lainnya tumbuh antara lima hingga hampir 10 persen.

Prediksi pesimistis itu diungkap Elfan Effendi, direktur eksekutif Greenomics Indonesia, terkait dengan penetapan target pertumbuhan ekonomi yang diusung calon presiden dan calon wakil presiden. Elfan menjelaskan, dengan ketiga syarat itu, berarti enam dari 10 sub-lapangan usaha dalam komponen Produk Domestik Bruto (PDB) harus tumbuh di atas 10 persen. Secara bersamaan pula, tiga dari 10 sub-lapangan usaha dalam komponen PDB juga harus tumbuh antara 5 hingga hampir 10 persen. Sisa satu lapangan usaha lagi, juga harus tumbuh minimal antara 1-5 peren.

“Jelas mustahil mencapai kondisi di mana 60 persen lapangan usaha dalam PDB bisa tumbuh di atas dua digit. Tanpa krisis global pun sulit dicapai, apalagi dengan krisis saat ini,” kata Elfan.

Ia menambahkan bahwa target pertumbuhan ekonomi dua digit itu harus punya sumber-sumber pendorong pertumbuhan (<I>drives of growth<I>), termasuk masalah akselerasinya. Jika konsep stimulus pertumbuhan ekonomi dua digit itu dicapai dengan cara menjadwal ulang utang itu bukan terobosan baru.

(dikutip dari : http://www.republika.co.id)